Arsip Blog

Rabu, 29 Februari 2012

Satu Ransel Saja!

Pengalamanku bepergian belumlah banyak. Meski baru sedikit tempat yang kukunjungi, tapi karakteristiknya bermacam-macam. Ada daerah yang didominasi laut dan udaranya luar biasa panas, kadang perkotaan, pernah pula ke daerah pegunungan yang kalau malam hari lumayan menyiksa sampai gak bisa tidur, saking dinginnya. Lama bepergian juga bervariasi. Ada yang cuma beberapa hari, tapi pernah juga sampai sebulan penuh. Nah, lalu bagaimana caraku mengemas barang bawaan?


Entah itu ke daerah berhawa panas, dingin, pergi beberapa hari, atau sampai beberapa minggu...patokanku adalah: bawa satu ransel saja! Mau muat banyak atau sedikit, pokoknya satu ransel saja. Ranselku memang imut sekali. Aslinya bukan ransel yang berfungsi sebagai outdoor gear. Dia adalah tas punggung merk Export warna hitam seharga Rp. 280.000,-, dengan laptop case di dalamnya. Meski kecil, dia punya banyak kompartemen, kantong-kantong rahasia di dalamnya, dan kuatnya minta ampun. Bayangkan saja, sejak kubeli 6 tahun lalu, sampai saat ini kondisinya masih sangat bagus. Dia sudah menemaniku sampai puncak Bromo, merayakan tahun baru di Bali, kupeluk erat ketika kapalku dihantam badai di Wakatobi, dan sehari-hari bertugas membawakan perlengkapan mengajarku hehehehe.



seminggu di Bali, bawaannya cukup satu ransel kecil ini




Ransel berukuran kecil tentunya tidak bisa memuat barang sebanyak ransel besar yang biasa dipanggul bule-bule ketika backpacking. Tapi justru disitulah serunya. Pada akhirnya aku hanya memuat barang yang benar-benar dibutuhkan saja, dan bisa menyingkirkan barang yang 'kupikir' akan kubutuhkan, padahal belum tentu dipakai juga. Kalau perempuan, tentunya acara berkemas menjadi sedikit lebih 'rempong' dibanding laki-laki karena perlengkapannya banyak. Misalnya macam-macam lotion, peralatan makeup, pembalut, dan lain-lain. Belum lagi keinginan untuk selalu tampil gaya dalam segala suasana, meski misalnya lagi uyel-uyelan kepanasan di dalam kereta ekonomi! Hahahaha...Oke deh, dalam hal ini tentunya aku agak iri ya dengan para lelaki yang dengan percaya diri bisa memakai baju yang sama berhari-hari sehingga bawaannya jauh lebih ringkas.


Tapi untungnya aku pun orangnya tak mau direpotkan barang bawaan. Bepergian ya paling nikmat cuma gendong satu ransel saja! Bebas, ringkas, dan leluasa naik turun dari kendaraan. Jadi biasanya aku berkemas berdasarkan lamanya bepergian dan karakteristik tempat tujuan (udaranya dingin atau panas, adat-istiadat di daerahnya cukup ketat atau longgar, tingkat keamanan, dan kelengkapan sarana-prasarana). 


Ketika magang sebulan di Wakatobi, bawaanku ya cuma satu ransel kecil itu saja. Karena disana aku akan menetap lama di suatu daerah, jadi tak perlu membawa banyak baju. Bukankah ada teknologi bernama 'cuci baju'? Hehehe...Selain itu, di daerah berudara panas, bawaan kita cenderung lebih ringan. Cukup 2-3 celana pendek dan beberapa potong kaos tipis. Selebihnya tetap wajib bawa jaket untuk jaga-jaga jika tak enak badan, melindungi kulit ketika cuaca terlampau panas, dan menangkal angin kencang. Ringan bukan? Aku sempat agak direpotkan juga dengan peralatan mandi dan aneka lotion  yang sengaja dibawa dari rumah, karena berpikir pulau tempat aku kerja adalah jenis pulau terpencil dan terisolasi dari kehidupan luar, sehingga jauh dari peradaban hahaha...Nyatanya di pulau tersebut lebih mudah menemukan aneka produl perawatan dan kecantikan dibanding sayuran. Kekeliruan seperti itu akibat dari kesalahanku sendiri. Gak cari informasi baik dari internet maupun bertanya pada teman yang pernah kesana. Ah bodohnya....Sama halnya ketika seminggu di Bali, bawa baju sedikit yang penting bisa padu-padan biar kalau difoto gak itu-itu lagi bajunya. Jangan khawatir dengan baju kotor, tinggal 'lempar' saja ke laundry. Beres!



bepergian sebulan, bawaannya tetap ringan!




Lain halnya ketika baru-baru ini ke Bromo. Padahal cuma sebentar, disana pun menginap semalam saja, selebihnya menghabiskan waktu yang sangat panjang di perjalanan. Tapi rekor deh, bawaanku lebih banyak dari biasanya. Mengapa begitu saudara? Karena aku membawa 4  buah baju hangat! Belum lagi celana jins yang biasanya kuhindari, kali itu terpaksa diangkut serta, dan...sepatu lengkap dengan kaos kakinya. Semua itu demi kenyamanan ketika mendaki di tengah udara super-duper dingin! Tapi tetap dong...semua harus muat dalam satu ransel saja. Itu masih bisa-bisanya menyelipkan totebag untuk wadah oleh-oleh lho...! Hihihi...Oya, beruntung pula aku menerapkan tipsnya si Trinity Traveler untuk membawa selembar kain tipis multifungsi. Memang beneran terpakai! Untuk mengalasi kasur penginapan yang aku yakin spreinya jarang diganti ;(


Ransel kecil membuatku tertantang untuk berkemas seringkas mungkin. Di kompartemen paling bawah, aku menyimpan barang-barang bertekstur keras dan berat dengan prioritas pemakaian tidak terlalu urgent. Semakin ke atas semakin ringan dengan prioritas pemakaian meningkat. Pocket serbaguna yang menampung hape, karet gelang, peniti, kantong kresek besar dan kecil yang dilipat rapi, pulpen, notebook kecil, aku taruh paling atas karena pastinya paling sering digunakan. Oya, jangan remehkan kantong kresek ini! Kita diuntungkan dengan bahannya yang mudah dilipat sampai kecil lalu diikat karet. Sama sekali tidak makan tempat. Bisa diselipkan di saku ransel atau dimasukan dalam pocket. Kita kan gak pernah tau kapan akan membutuhkan jasa si kantong kresek ini. Memangnya baju kotormu tidak kamu pisahkan? ;)  Bawalah kantong kresek berukuran sangat besar dan sangat kecil. Keduanya sama pentingnya. Yang besar bisa berfungsi sebagai pelindung ransel, apalagi jika ranselnya tidak dilengkapi rain cover. Dan yang kecil...bisa buat menampung muntahan jika mengalami mabuk perjalanan!


Salah satu cara mengemas dengan ringkas tentu dengan membawa barang-barang ringan yang mudah disesuaikan dengan kapasitas ransel. Aku sendiri sih sudah beberapa waktu ini merasa lebih nyaman memakai dan membawa celana harem juga terusan! Betul, terusan atau sackdress juga nyaman dikenakan bepergian. Dan lebih irit tempat, karena dibanding baju yang tentu harus dipakai dengan celana, sackdress ini cuma satu helai saja! Jangan lupa pakai celana pendek pelapis, supaya aman dari intipan mata-mata nakal. Bepergian dengan celana harem atau terusan jauh lebih sehat karena aliran darah tetap lancar, leluasa, dan jauh dari perasaan ketat terjepit seperti ketika memakai  celana jins. Itu menurutku lho yaaa ;)


Mengumpulkan cukup informasi mengenai situasi perjalanan dan tempat tujuan pun bisa meng-efektif-kan pemilihan barang bawaan. Dan selebihnya...berkemas dengan ringan akan membuat langkah menjadi ringan pula, karena intinya aku ingin menikmati suka-duka, pahit-manis-nya perjalanan, bukan mengkhawatirkan barang bawaan ;)



Minggu, 19 Februari 2012

Kebaikan Bertaburan di Jalan

Jika saja ini bukan perjalanan dadakan demi mengurusi masalah keluarga yang njelimet, tentu akan jadi sesuatu yang mengasyikkan. Adalah hari Jum'at yang lalu (17/2), aku diharuskan pergi ke suatu tempat yang sebelumnya belum pernah kutau ada. Desa terpencil bernama Cikeusal yang gambarannya sama sekali nol di kepalaku. Okeh...where the hell is that? Aku cuma punya informasi berupa nama orang yang kucari dan nama desa tempatnya tinggal tersebut. Aku yakin banyak orang memiliki nama yang sama dengan orang yang kucari ini, jadi ini benar-benar bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami. Okay, Cikeusal sebagai awalan aku yakini merupakan sebuah desa yang merupakan bagian dari Kabupaten Tasik (aku berdomisili di Kota Tasik). Mungkin di daerah selatan (pakidulan). Mungkin juga bukan...Sial!


Seingatku, kawn-kawan yang berasal dari daerah Tasik Selatan sering mengatakan jika hendak pulang kampung mestilah mereka menunggu bis di terminal Padayungan. Okay...aku pun naik angkot 03 dan turun di depan terminal Padayungan. Aku lihat ada bis nangkring di pintu keluar terminal, dengan taruhan nyasar aku naik bis tersebut. Di dalam baru setengah penuh. Aku bertanya pada orag-orang di dekatku apakah bis ini lewat Cikeusal? Serempak mereka menjawab "henteu! lepat! sanes atuh neng!" (ind. "tidak! salah! bukan dong, neng!"). Aku melongo langsung lemas. Jadi bukan bis ini...lalu bis yang mana?


"Ikut saya aja dulu ke terminal baru, kebetulan saya mau ambil elf di terminal. nanti saya titip ke pengurus di sana supaya neng ditunjukkan mobil ke cikeusal!" Seketika saya menoleh. Seorang pria kira-kira pertengahan usia 30 dengan penampilan khas sopir atau kondektur bus. Baju lusuh, badannya menebarkan aroma menyengat khas orang jarang mandi, dan di bibirnya terselip rokok mengepulkan asap menyesakkan. Aku tertegun. Orang ini bisa dipercaya atau tidak? Dia orang asing, nada bicaranya tanpa tendensi, biasa saja, tapi menunjukkan kalau dia peduli. " Supaya gak ribet, neng sebaiknya naik elf jurusan Burujul Jaya, tujuan akhir Pasar Cikeusal. Nanti dari pasar langsung ke kantor desanya saja, minta informasi tentang orang yang sedang neng cari dan alamatnya sekalian. Elf ke Cikeusal adanya di terminal baru. Nanti saya antar." Katanya lagi. Kali ini terdengar lebih meyakinkan. Terus terang di kepalaku sedang perang batin. Antara harus waspada pada orang tak dikenal, atau ikuti saja dulu petunjuknya sambil berhati-hati dan jaga diri. Aku jadi ingat perkataan salah seorang kawan: "Pergi jauh ke tanah orang itu baru terasa kalau energi yang kita bawa positif, hasilnya pasti positif juga!" Maka bismillah...aku akhirnya memutuskan ikut dengan Bapak Sopir yang bahkan aku lupa menanyakan namanya. Di by pass kami turun lalu menanti kendaraan lewat yang menuju terminal baru. Berkat kebaikannya, aku sampai gak harus bayar sepeser pun! Dia mengatakan pada kondektur elf yang kami tumpangi, aku adiknya. Begitulah...akhirnya kami sampai di seberang terminal baru. Bapak Sopir mengantarku ke sebuah warung minuman di mana ada 2 orang laki-laki, yang satu petugas dishub, dan satu lagi nampak seperti preman yang berkuasa atas 'wilayah' tersebut. Aku dititipkan pada seseorang yang kusebut preman tadi. Lalu Bapak Sopir pamitan untuk mengambil elfnya di dalam terminal untuk menjalankan tugas. Sudah, begitu saja, tanpa basa-basi. "Elf ke Cikeusal 15 menit lagi berangkat. Kasih saja ongkos 10 atau 12 ribu. Biar nanti saya bilangin sopirnya kalau neng saudara saya biar gak ditarik mahal ongkosnya!" Kata Pak Preman lalu menghembuskan asap rokoknya ke udara. Waaaaa...bagaimana aku tidak merasa sangat beruntung? Sudah ditolong masih dapat diskon ongkos pula. 


Sering melakukan perjalanan dan menikmati segala ketegangan juga kegembiraannya membuatku belajar untuk tidak menilai orang dari satu sisi saja. Saat ini aku melihat para calo di terminal atau stasiun itu biasa-biasa saja. Ingat saja bahwa begitulah cara mereka mencari nafkah untuk menghidupi anak-istrinya. Yang penting kita tegas menolak kalau memang keberatan dengan tawaran mereka. Sering...sering sekali aku mendapat kebaikan dari orang-orang yang tak kukenal di perjlananan. Ada lagi pengalamanku ditolong orang. Kali itu kejadiannya di Stasiun Kereta Tasikmalaya. Aku hendak memesan tiket kereta api Lodaya-Bisnis jurusan Jogja. Harga tiket hari Senin-Kamis Rp.90.000,-. Saat itu aku lupa, aku kan memesan tiket untuk keberangkatan Jum'at, jadi harganya berbeda memang untuk akhir pekan. Ketika di depan loket, tiket kadung dicetak dan aku hanya memegang uang Rp. 100.000,- di tangan. Otomatis aku panik kebingungan karena masih kurang 10 ribu. Akhirnya aku bilang titip KTP, tiket, dan sepeda sebagai jaminan. Aku pulang jalan kaki saja mengambil uang untuk membayar kekurangan 10 ribu itu. Tak disangka ada sepasang suami istri yang berbaik hati membayarkan kekurangan uang 10 ribu itu. Aku salting jadinya karena kami tidak saling kenal. Sang suami menyodorkan uang 10 ribu itu ke petugas loket "Ini pak, kurangnya saya yang bayar untuk adek ini." Katanya dengan logat Jawa yang kental. Sementara istrinya mengangguk penuh arti sambil tersenyum, "gak apa-apa, dek, itu mungkin rejekinya adek yang dititip di dompet suami saya". Coba, mau bilang apa selain ternganga? Rasanya pengen nangis dan memeluk kedua orang itu.


Kalau ini cerita tentang kebaikan di jalan yang terbaru. Senin (13/2) sekira jam 9.15 aku pulang berjalan kaki dari tempat mengajar. Jika cuaca teduh aku lebih memilih berjalan kaki menikmati suasana selain tentu menyehatkan baik tubuh maupun dompet :D Di Jalan Empang depan Hotel Selamet, ada tukang sate ayam pikul lewat. Aduuuuh wanginya. Perut langsung bunyi krucuk-krucuk karena dari rumah cuma sarapan serabi sebelum berangkat ngajar. Aku memanggil tukang sate lalu kami menepi mencari tempat teduh. Abang sate menaruh pikulannya di depan hotel, persis di samping warteg. Aku duduk menunggu pesananku dibuat di pot bunga raksasa. Seorang bapak yang kemudian kutau pegawai hotel sekaligus pemilik warteg menyuruhku duduk di bangku dalam warungnya saja. "Panas neng di luar mah!" Aku menurut karena sekitar 3-4 kali bapak tersebut menyuruhku duduk di warungnya saja. Selain berbaik hati mempersilahkanku menikmati sate yang notabene bukan dagangannya, ia pun menyodorkan segelas teh hangat (tukang sate tidak menyediakan air minum). Okey mungkin aku harus bayar air tehnya pikirku. Gak apa-apa. Tapi ketika aku selesai dan hendak membayar tehnya, si bapak menolak sambil mengibaskan tangannya. Gak usah katanya, cuma air teh. Padahal kutau di banyak warung, air teh maupun air minum tidaklah gratis. Jadi aku merasa segelas teh dan kebaikan si bapak adalah sesuatu yang istimewa pagi itu. Rasa hangat seketika mengalir di tubuhku. Perasaan sentimentil terharu dan percaya bahwa kebaikan itu melimpah! Bisa didapat di mana saja, termasuk di jalan!


Percayalah, ketika sering sekali bersyukur akan kebaikan-kebaikan kecil yang kita rasa sebagai anugerah luar biasa, maka dengan sendirinya kita akan tergerak untuk melakukan hal yang sama pada sesama. Dan kupikir, itulah salah satu makna dari melakukan perjalanan. Memperkaya sudut pandang, belajar menilai seseuatu atau seseorang namun tidak menghakimi, dan senantiasa berpikir positif.


Jadi, pernahkah kamu menerima kebaikan dari orang asing di perjalanan? Aku ingin dengar juga ceritanya :)



Fatimah: satu dari sekian banyak kebaikan yang kutemui di perjalanan


Jumat, 10 Februari 2012

Diamuk Badai Sepulang Hepi-hepi dari Wanci (Pulau Wangi-wangi)

Betul-betul deh ini pengalaman yang akan selalu aku ingat seumur hidup. Sampai sekarang jika mengingat kejadian ini, rasa panik dan takutnya masih terasa. Ketika itu sedang dalam rangka magang sebulan di Wakatobi,dan setelah kurang lebih dua minggu kerja, aku dan teman-teman memutuskan break sekitar 2-3 hari. Kami butuh mengambil nafas setelah hari-hari kerja yang lumayan menguras pikiran. Selain itu, aku dan partner magangku butuh pergi ke tempat di mana listrik dan internet tersedia 24 jam untuk mengerjakan dan mengirimkan report ke pusat. FYI, Pulau Kaledupa tempat kami kerja dan tinggal ketika itu hanya dialiri listrik 12 jam saja setiap harinya! Mulai dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi. Dengan jumlah colokan listrik yang terbatas sementara orang-orang yang butuh mengecas laptop, handphone, dan menyambungkan berbagai peralatan elektronik lainnya sangat banyak, jadilah sering tak kebagian mengisi ulang batre handphone dan laptop. Bahkan kadang kami sampai rebutan supaya kebagian colokan hihihi :D

Rumah yang merupakan base dari lembaga yang kami dampingi sebetulnya sudah dipasangkan parabola untuk jaringan internet dan memiliki cadangan listrik tenaga surya, namun kami tidak leluasa berinternet ria karena kolong rumah (rumah-rumah di Pulau Kaledupa mayoritas berbentuk rumah panggung) yang disulap sebagai aula tempat berkumpul masyarakat binaan lembaga tersebut juga merangkap sebagai tempat pembayaran rekening listrik online. Kan gak enak ya kalau harus menyerobot kepentingan masyarakat yang lebih penting. Selain itu setelah dua minggu berada di pulau kecil dengan banyak keterbatasan, kami anak-anak kota yang manja ini mulai rindu peradaban hehehe. Hal-hal kecil seperti televisi, tempe, tahu, dan sayuran, ketika itu menjadi sesuatu yang mewah bagi kami. Maka di suatu subuh yang telah kami rencanakan, kami pun berangkat menuju ibukota kabupaten Wakatobi yaitu Wanci (terletak di Pulau Wangi-wangi).

Kami persisnya tinggal di Ambeuwa, salah satu desa terkemuka di Pulau Kaledupa yang terletak dekat sekali dengan pelabuhan. Kami harus bangun pagi sekali, sekitar jam 4.30 pagi agar bisa sampai di pelabuhan tepat waktu dan tidak ketinggalan speedboat. Kapal cepat ini berangkat dari pelabuhan Ambeuwa sekitar jam 05.00 pagi. Maka subuh itu kami berempat bangun dengan mata masih mengantuk dan tak ada satupun yang sudi mandi. Suasana di pelabuhan mirip sekali dengan pasar. Riuh suara orang-orang yang bercakap dengan teman atau sanak familinya sambil menanti speed boat datang. Di pelabuhan banyak ibu-ibu penjual makanan tradisional Wakatobi diantaranya adalah kasuami. Makanan terbuat dari singkong yang sudah diperas dan dipadatkan serta berbentuk kerucut. Kasuami paling sedap dimakan bersama ikan asin bakar khas wakatobi yang masih setengah kering ketika diangkat dari jemuran. Ikan asin berdaging tebal ini dibumbui garam, bawang, serta rempah. Tidak ada pakai formalin seperti di Jawa (Pulau Jawa maksudnya). Oya, ada cerita menarik tentang ikan asin ini. Mahasiswa-mahasiswa Wakatobi yang kuliah di Kendari (ibu kota Sulawesi Tenggara), ketika berangkat biasanya dibekali banyak sekali ikan asin oleh keluarganya. Tahu kenapa? Karena orang-orang Wakatobi tidak bisa makan ikan laut yang sudah diawetkan dalam pendingin. Setiap harinya mereka makan ikan segar, waktu itu ditangkap waktu itu juga dimasak. Kalaupun terdapat banyak sisa, biasanya para ibu lantas melumurinya dengan tumbukan rempah bercampur garam lalu dijemur. Seorang kawan penduduk asli Kaledupa bercerita, pernah ia makan ikan laut yang dikulkas tak lama badannya langsung gatal-gatal. Maka dari itu lebih baik makan ikan asin bekal dari rumah daripada makan ikan masuk dalam kulkas.

Speedboat yang kami tunggu akhirnya datang dan tak lama berangkat menuju Kota Wanci di Pulau Wangi-wangi. Ooooh Tuhan, bukan kepalang senang hatiku. Membayangkan bisa mengerjakan report dengan lancar dan koneksi internet yang cepat, kasur empuk, hembusan pendingin udara, dan refreshing di kota Wanci! Meskipun disebut kota ya jangan bayangkan kotanya seperti Tasikmalaya. Ini jauh lebih kecil dan fasilitasnya tentulah juga tidak lengkap. Tapi di kota inilah terdapat bandara Matahora, beberapa hotel, rumah makan, ATM, SPBU, salon kecantikan, dan hal-hal lain yang tidak ada di Kaledupa.

Ketika itu ombak tenang dan bersahabat. Perjalanan 1,5 jam dengan speedboat terasa sangat menyenangkan. Apalagi kalau kita melongok dari jendela kapal, bisa melihat karang-karang dan ikan karena perairannya jernih. Tapi ya kalau kebetulan sedang lewat perairan dalam yang kelihatan cuma biru melulu gak ada jernih-jernihnya. Aku terus terang merasa tidak takut apa-apa, karena pengalaman sebelumnya ketika pertamakali datang ke Wakatobi dan harus naik speedboat ini ke Kaledupa terasa asik-asik saja. Menurut penuturan penduduk lokal di Kaledupa, perairan Wakatobi termasuk yang perairannya tenang. Ombak tidak terlalu tinggi. Mengapa bisa begitu, karena Wakatobi merupakan kabupaten kepulauan. Jadi dalam satu kabupaten terdapat banyak pulau. pulau-pulau besarnya merangkap kecamatan di antaranya Wanci, Kaledupa, Binongko, dan Tomia. Karena terhalang pulau-pulau inilah angin yang bertiup di lautan terpecah dan jadi lebih kecil. Bisa dirasakan jika kamu sedang berada di pantai-pantanya, ombak sungguh tenang boleh dikatakan tanpa gelombang. Asik deh...beda dengan pantai-pantai yang kita kenal di Pulau Jawa, yang paling populer misalnya Cipatujah atau Pangandaran, ombaknya besar-besar kan.

Akhirnya daratan mulai tampak, perkampungan suku Bajo terapung di atas air. Aku terpesona, bagaimana ada manusia-manusia yang cinta terbesarnya adalah lautan bahkan bermukim, berketurunan, dan mencari nafkah pun di laut. Suku Bajo atau ada juga yang menyebutnya Bajao, tidak hanya terdapat di Indonesia. Tapi tersebar di seluruh dunia bahkan Afrika! Ini diungkapkan salah seorang kawan yang bekerja di lembaga konservasi lingkungan, yang kantornya nanti kami tebengi jaringan internetnya hehehe. Ia bilang juga, Bajo-Bajo seluruh dunia bahkan memiliki komunitas sendiri. Woooow...hebat benar!

Semakin dekat ke darat, semakin berisik pula suasana di dalam speedboat. Bersiap turun tentu saja, tapi selain itu ada pemandangan menarik. Para penduduk lokal sibuk bertelpon dengan suara kencang, bahkan beberapa sampai di loudspeaker. Ini seperti pertempuran hape-hape berbagai merek. Mereka sibuk mengabari kerabat bahwa mereka sudah sampai. Speedboat ini mendarat di pelabuhan Mola. Ya Alloh, ini di pelabuhan aja airn lautnya tosca bening begitu, kita bisa lihat bintang laut yang gemuk-gemuk dan beberapa macam ikan. Keren! Aku suka sekali dengan kesibukan di pelabuhan, banyak yang bisa kulihat dan kuamati. Salah satunya adalah penjual aksesoris dari kulit penyu! Padahal penyu hijau adalah hewan laut yang dilindungi. Tapi penduduk setempat memiliki kepercayaan bahwa jika kita mengenakan gelang atau cincin dari kulit penyu, kita akan terhindar dari hal-hal buruk. Aku tentu saja tidak membeli, meskipun harganya murah. Dari pelabuhan Mola kami menuju Hotel Jelly, hotel yang jauh lebih kecil dari Hotel Wakatobi yang merupakan hotel terbesar dan terkemuka disana. Terbesar kan belum tentu yang terbaik ya...aku punya pengalaman gak menyenangkan di Hotel Wakatobi ini. Ketika sholat di atas tempat tidur (karena gak yakin dengan kebersihan lantainya), palang tempat tidurnya krakkk! patah! Wucha partnerku sampai ketawa guling-guling saking lucunya melihat aku tersungkur dalam balutan mukena ke kolong tempat tidur. Bukan cuma itu, aliran air di kamar mandinya juga keciiiil sekali. Padahal ratenya lumayan mahal, sekitar 300 ribuan lebih. Tapi ya memang gak rugi, karena ditanggung lembaga hehehe. Maka, bagi kamu yang berniat ke Wakatobi dan akan transit di Wanci sehari untuk menanti speed boat yang biasanya berangkat pagi ke tujuan-tujuan diving spot, aku sarankan menginap di Hotel Jelly saja. Letaknya dekat alun-alun Wanci, dekat kok dari Hotel Wakatobi tinggal jalan sedikit. Di Jelly meski hotelnya lebih kecil tapi lebih nyaman dengan fasilitas spring bed, single dan double, kamar mandi dalam, AC, dan tentu saja bersih. Harganya cuma sekitar 175 ribu. Entah saat ini sudah berubah atau belum harganya.

Setelah menaruh barang kami bergegas sarapan di Rumah Makan Pelangi. Salah satu rumah makan terkenal di Wanci. Masakannya Padang tapi pemiliknya orang Jawa. Lucu kan? Ia sudah lama tinggal di Wanci sehingga logatnya sudah mirip sekali penduduk asli. Masakannya enak-enak dengan harga relatif terjangkau. Yah 20 ribuan lah sekali makan. Harga-harga di Indonesia timur kan memang mahal, mengingat rempah-rempah dan bumbu juga harus didatangkan dari Jawa. Selesai sarapan balik ke hotel, merapikan report, dan...tidur dulu. Tiduuuuur terus seharian dimanjakan hembusan AC. Duh rasanya mewaaaah sekali, karena sehari-hari aku tidur dalam keadaan berkeringat dan dikerubuti nyamuk. Meski begitu aku rindu loh dengan panasnya Kaledupa hehehe...Malam harinya setelah mandi jebar-jebur (di Kaledupa air sangat terbatas, mengalir hanya di malam hari), kami berangkat ke kantor gabungan beberapa lembaga konservasi lingkungan untuk bersilaturahmi dan numpang mengirim email ke pusat. Sisanya adalah pesbukan sekenyangnya hehehe...

Selain mengerjakan report dan menghimpun data serta informasi dari orang-orang yang bekerja di lembaga tempat kami magang, kami juga tentunya bersenang-senang. Menjelajahi Pasar Mola, melihat-lihat cakar alias cap karung (baju-baju second import). Gak cuma baju, banyak juga tas dan sepaatu second lucu-lucu. Aku dapat sebuah kemeja putih seharga 10 ribu saja. Kemejanya lucu banget, sampai aku pake ngemsi di acara pemutaran film di Kaledupa hahahaha. Sementara partner magangku membeli rompi biru berimpel.

Besok paginya harus kembali ke Kaledupa. Saat itu gerimis dan aku sudah duduk manis di dalam speed boat. Sepertiga perjalanan masih hepi dan haha-hihi...tapi kok makin lama kapal olengnya makin heboh? kapal rasanya kayak lompat-lompat di ombak sehingga menimbulkan bunyi brakkk! brakk! yang keras. Hujan makin deras, penumpang yang tadinya berisik berubah diam. Aku merasa mulas. Mukaku pias dan panik setengah mati. Apakah ini yang disebut badai di tengah lautan. Buih putih makin banyak, ombak bergulung tinggi, warnanya tidak biru lagi, tapi hitam! Hwaaaaa....aku dan orang-orang lain menjerit ketika kapal oleng ke kiri dan ke kanan diterjang ombak. Mendadak aku komat-kamit berdoa, mohon ampun pada Tuhan atas segala dosa, ingat wajah kedua orangtua, teman-teman, dan murid-muridku. Aku tidak bisa berenang. Oke, berenang di kolam lumayan lah bisa, tapi di tengah laut yang sedang bergejolak? Oh Tuhan...lindungi kami...selamatkan kapal kami...Ketika sebagian besar orang panik, masih ada beberapa yang berpembawaan tenang. Kapten kapal masih menghisap rokoknya dengan nikmat, polisi-polisi yang duduk tepat di sampingku juga masih asik mengobrol tentang sebuah kasus yang terjadi di Kaledupa, dan partner magangku bergelung di bangkunya dengan menutupi muka. Kurang ajar! Bagaimana dia bisa setenang itu coba?

Aku takut tenggelam. Aku pernah tenggelam di Pangandaran dan tak ada seorang pun menyadarinya. Ketika itu masih SD, sedang ada acara piknik akhir tahun. Aku dan teman-teman berenang, makin lama makin jauh ke tengah saking asyiknya. Tiba-tiba ada ombak besar datang mengehmpasku, aku yang saat itu posisinya jinjit kehilangan kendali, terbawa arus, kakiku menggapai tak mendapat pijakan. air laut masuk ke mulutku. Aku panik, tanganku menggapai-gapai. Aku tenggelam! Aku mau mati! Dan tiba-tiba tanganku menggapai sesuatu, langsung kupegang erat. Ternyata itu adalah tambang pengikat ban sewaan. Ketika kepalaku muncul ke permukaan, kulihat tak ada kepanikan. Semua tampak normal, kawan-kawanku tertawa-tawa gembira. Rupanya aku tenggelam sebentar saja sebetulnya, tapi rasanya seperti lama sekali. Maka tak heran ketika terjebak badai di laut, paniknya bukan main. Perasaan takut tenggelam muncul lagi.

Semakin dekat ke daratan ombak semakin besar. Sudah sulit kugambarkan perasaanku ketika itu. Pokoknya ngeri. Ketika kapal oleng, air laut sampai masuk melalui jendela-jendela kaca. Aku tak sadar kepanikanku menjadi tontonan kapten kapal dan para polisi di sampingku. Aku baru tenang setelah dermaga mulai terlihat, meski masih berupa titik kecil tapi perlahan darah berdesir mengaliri tubuhku lagi. Keteganganku perlahan kendur. Sudah dekat, sudah hampir sampai...kami pastti selamat. Akhirnya kapal semakin dekat ke pelabuhan dan ketegangan di wajah para penumpang perlahan sirna tergantikan rasa lega. Tak sedikit yang mengucap syukur karena selamat sampai tujuan. Ketika menginjakkan kaki di daratan rasanya lututku masih gemetaran. Ditambah pula badan kedinginan karena kehujanan. Kami memutuskan mencari makanan penghangat badan.

Keesokan harinya ketika bertemu Mama Amri, kepala dapur di lembaga dampinganku, aku ditertawakan habis-habisan. Katanya ia mendengar dari awak-awak kapal di pelabuhan ada perempuan menjerit-jerit ketakutan di atas kapal ketika badai. Itu adalah aku! Rumah mama Amri memang dekat dengan pelabuhan. Hahahaha...nasib tinggal di pulau kecil, berita seremeh apapun cepat sekali menyebar. Aku ikut tertawa saja mengingat tingkah konyolku kemarin. Kupikir hanya kami-kami saja yang tahu cerita memalukan ini, eh pas lewat kantor polisi lagi-lagi aku ditertawakan oleh sekelompok polisi muda yang sedang berjaga di depan. Rupa-rupanya salah satu di antara mereka dalah polisi yang duduk di sampingku kemarin ketika menyebarang ke Kaledupa. Oalaaaaah...bukan main malunya akuuuuu *tutup muka*

Senin, 06 Februari 2012

Bromo Boleh Ngeteng Lhooo! (Rincian Biaya)


Baiklah para ibu, bapak, adek, dan kangmas-mbakyu....karena banyak yang meng-emailku paska postingan tentang kucluk-kucluk ke Bromo sendirian kemarin dan bertanya tentang rincian biaya, dengan senang hati aku akan menuliskan kembali berapa persisnya biaya yang kuhabiskan waktu itu. Ini dihitung dari Tasikmalaya sebagai starting point. Kamu yang berangkat dari Bandung, Jakarta, Padang, Papua, manapun, silahkan bikin hitungan sendiri hahahaha


Hari Ke-1 (Kamis, 26 Januari 2012)


ongkos ke stasiun 7.000,-  I  ongkos kereta api Tasik-Malang (Malabar Express, bisnis) Rp. 175.000,- I Total Rp.182.000,-


Hari Ke-2 (Jum'at, 27 Januari 2012)


teh tawar di kereta Rp. 2.000,-  I  angkot ABG dari Stasiun ke Terminal Arjosari Rp. 2.500,-  I  sarapan telat Rp. 15.000,-  I Ongkos bis AKAS AC Malang-Probolinggo Rp. 23.000,-  I  makan siang di warung pengeteman bison Rp. 9.000,-  I Bison ke Cemoro Lawang Rp. 50.000,-  I  penginapan Rp. 60.000,-  I  makan malam Rp. 20.000,-  I  sharing-an jeep Rp. 70.000,-  I  Total Rp. Rp.251.000,-


Hari Ke-3 (Sabtu, 28 Januari 2012)


jagung bakar Rp. 5.000,-  I  popmie Rp.8.000,-  I  bison ke Probolinggo Rp.25.000,- I  travel Probolinggo-Jogja Rp. 100.000,-  I ongkos becak sosrowijayan-nagan kidul Rp. 15.000,-  I  bis budiman Jogja-Tasik Rp. 65.000,-  I becak simpang lima tasik-rumahku istanaku Rp. 10.000,-  I Totaal Rp. 228.000,-


so, 182.000 + 251.000 + 228.000 = Rp. 661.000,-


Terhitung murah, karena dengan 600 ribuan sudah bisa ke Bromo dan Jogja...kalau mau lebih murah tentunya ajak teman yang banyak hehehehe...


Cheers...

Rumah Kedua


Rumah Napaktilas: Jl. Nagan Kidul No.5 Jogjakarta

Ketika hectic dengan pekerjaan, mati gaya, atau merasa bego tak tertahankan, ke sinilah aku melarikan diri. Sekedar merasakan suasana berbeda dan merasa nyaman karena diterima dengan tangan terbuka...


hangat, hidup, dan terbuka 


...tak segan berbagi dan memahami...


area vital rumah ini: meja-kursi tempat berdiskusi dan mencari inspirasi...tak lupa secangkir teh setia menemani...


...juga keceriaan dan kesenangan!


...pssssttt! disinilah produk-produk Napaktilas dibuat dengan sepenuh hati!


dan tas Napaktilas milikku sudah jadi! Yihiii!


...betapa beruntungnya punya rumah kedua...


Terimakasih Mbak Di, karena membolehkanku menganggapnya sebagai rumah kedua :)











Minggu, 05 Februari 2012

Bromo: Travel Alone Is Not Lonely


Hooorayyy! Akhirnya setelah direncanakan berbulan-bulan, atur jadwal, nabung, dan lain sebagainya....terwujud juga impian solo traveling ke Jawa Timur. Aduh ya ampun, Jawa Timur itu cantik sekali dan punya banyak tempat-tempat menarik untuk dikunjungi. Awalnya ini gara-gara sebuah novel berjuadul 'Lian Nio' yang ditulis oleh Suwandono, sebuah kisah nyata yang bersetting Kota Banyuwangi. Kota yang selama ini terkenal dengan pelabuhan Ketapang yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali. Akhirnya jadi sering googling, dan ternyata memang banyak tempat cakep-cakep di Banyuwangi yang luput dari perhatian orang karena kalah pamor dengan Bali. Lucunya, di kantor tempat kerja dulu, aku punya sahabat orang Banyuwangi. Baru sebulan lalu dia dan keluarga kecilnya kembali ke Banyuwangi setelah setahun hidup di Tasik. Lebih asyik lagi, rumahnya berada dekat sekali dengan pelabuhan Ketapang. Sampai dia bilang gini: "Kalau kamu main ke Banyuwangi, nginepnya harus di rumahku! Nanti kita makan siang di Men Tempeh (rumah makan dengan resep ayam betutu paling terkenal di bali), nyebrang ke Banyuwangi!" Hahahaha...gokil kan, saking deketnya, makan siang aaja songong nyebrangin Selat Bali.

Tapi memang dasar gak kuat iman, lain hari aku lihat Iwan Setyawan si penulis 9 Summesr 10 Autumns posting foto-foto Kota Batu. Emang cakep banget. Apalagi Selecta. Duh ampun, kebon bunga yang super luas dengan latar belakang gunung-gunung, dan hawa yang sejuk. Menginspirasiku untuk melihat dan merasakan sendiri keindahannya. Jadilah menyusun rencana awal trip kali ini final destination-nya adalah Batu. Tapi ketika googling, gak sengaja nyasar ke blog seorang perempuan yang backpackeran bersama seorang kawannya ke Jawa Timur. Bikin ngiler gak sih, selama seminggu itu dia ke Pulau Sempu, menikmati sejuknya Batu, dan...ke Bromo. Berdasarkan info dari tulisannya, ternyata ke Bromo bisa ngeteng! Yang selama ini di pikiran orang-orang ke Bromo itu muahalll karena harus ikut paket tour beramai-ramai. Dan...seperti yang bisa diduga, aku akahirnya merubah rencana. Yang tadinya mau jalan-jalan santai di tengah kebun bunga dan wisata petik apel, malah melenceng jadi berpetualang ke Bromo! Enaknya pergi sendiri adalah kita bisa merubah rencana sesuka hati tanpa dicemberutin temen-temen :p

Hari Ke-1 (Kamis, 26 Januari 2012)

Stasiun Kereta Api Tasikmalaya. Tepat pukul 18.23 kereta api Malabar Express tujuan akhir Malang berangkat. Aku ambil kelas bisnis dengan harga tiket Rp. 175.000,-. Tadinya mau pake bis, tapi setelah dipikir-pikir harus sering gonta-ganti karena gak ada bis dari Tasik yang langsung ke Malang. Lagipula ongkos bis kalau dikalkulasi cuma beda tipis aja dari ongkos kereta api. Jadi di dalam kereta tinggal bobo manis aja, besok paginya kan bisa segar dan melanjutkan petualangan. Meski sendiri, tapi gak merasa sepi. Aku menikmati sekali bisa melihat pentas fragmen-fragmen kehidupan dalam kereta. Di bangku seberang, ada seorang bapak yang sedang menjagai anak perempuan kecilnya tidur. Di bangku depan kulihat ada pemuda yang rikuh sekali karena duduk satu seat dengan wanita berpakaian seksi. Aku sendiri puas bisa duduk dekat jendela dengan tempat duduk yang hanya milikku sendiri. Memang ketika malam bertambah pekat, tak ada yang bisa kulihat di luar selain gelap. Aku putuskan membaca buku baru yang sengaja kubeli untuk menemani perjalananku kali ini: 'Life Traveler' karya Windy Ariestanty. Sesekali kucomot roti tawar pandan tanpa selai yang sengaja kubawa sebagai bekal. Sisanya kuhabiskan malam dengan tidur pulas. Entah mengapa, dengan melakukan perjalanan sendiri rasanya lebih romantis.

Hari Ke-2 (Jum'at, 27 Januari 2012)

Stasiun Kota Baru Malang. Tepat pukul 8.20 pagi kereta tiba. Bergegas menuju toilet stasiun untuk cuci muka dan gosok gigi. Tak boleh mandi pikirku, takut masuk angin. Hebatnya toilet di stasiun ini gratis, lumayan duitnya bisa buat ongkos angkot menuju Terminal Arjosari. Dari stasiun, aku memang harus melanjutkan perjalanan menuju terminal bus. Atas saran dari seorang ibu pemilik toko kue di pintu keluar stasiun, aku menyeberang dan menyetop angkot ABG dengan tujuan akhir Terminal Arjosari. Lamanya sekitar 20 menit dengan tarif Rp. 2.500,-.

Di angkot aku bertemu kawan seperjalanan pertamaku. Keluarga kecil yang terdiri dari suami-isteri muda dengan seorang anak laki-laki berusia 4 tahun bernama Adit. Mereka bermaksud melanjutkan perjalanan ke Jember, setelah menempuh perjalanan jauh dari Banten. Dan kami sepakat akan naik bis yang sama, karena untuk menuju Bromo aku harus naik bis jurusan Jember, tapi turun di Probolinggo. Setelah hampir 15 jam tiada berkawan, rasanya menyenangkan punya seseorang untuk diajak mengobrol. Apalagi mereka ini baik sekali, mau menungguiku membeli nasi bungkus yang akan kusantap di bis karena aku ingat, terakhir kali makan nasi adalah kemarin siang!

Bis AKAS AC tujuan Jember berangkat pukul 9.30 waktu setempat. Adit dan orangtuanya duduk persis di belakang sopir, sementara aku persis di seberang mereka, duduk satu seat dengan seorang perempuan cantik yang ternyata asli Bromo. Kebetulan yang menyenangkan! Dia malah berbaik hati mau mengantarku menuju tempat pengeteman bison (elf warna biru, angkutan umum menuju Cemoro Lawang, desa terdekat dengan Bromo). Rasanya luar biasa, di  antah berantah bisa bertemu orang-orang baik yang mempermudah urusan kita. 

Bis menurunkan aku dan si perempuan cantik di gerbang terminal Bayuangga-Probolinggo. Benar saja, ia mengantarku menuju tempat bison mangkal, lalu ia pamit karena sudah dijemput pacarnya. Dan...akupun sendiri lagi. Okay gak apa-apa...Aku berjalan cepat menuju warung yang biasa dijadikan tempat transit para turis sebelum naik ke Cemoro Lawang. Sudah ada 5 orang pemuda duduk-duduk santai mengelilingi meja. Kami saling menyapa. Aku melihat jam dinding, pukul 12.10 waktu setempat.

Aku berusaha sampai secepat mungkin, karena ingin punya waktu banyak menikmati keindahan Cemoro Lawang ketika hari masih terang. Kesorean sedikit saja sudah tersaput kabut. Waktu bergulir tapi kok bisonnya tak kunjung berangkat. Rupanya sopir menunggu penumpang banyak dulu baru mau berangkat. Memang bison ini angkutan yang ajaib dan labil hahaha. Kalau kebetulan ketika kita tiba sudah banyak orang, minimal 10 orang-lah, bison bisa langsung berangkat. Tapi kalau cuma sedikit seperti ketika aku tiba, dia gak mau cepat-cepat berangkat. Kecuali...kita bersedia bayar sedikit lebih mahal dari tarif biasanya Rp. 25.000,-. Aku sih gak keberatan yah bayar agak mahal karena gak ingin kehilangan momen-momen indah di Cemoro Lawang. Tapi pemuda-pemuda asal Pasuruan itu gak bersedia. Maunya cepet berangkat dengan tarif biasa. Ya jelas si sopir gak mau. Akhirnya mereka memutuskan untuk balik lagi ke Pasuruan dan kembali lagi besok. Maka tinggallah aku sendiri. Jeng...jeng...ini gimana ini...masa sudah jauh-jauh dari Tasik ke Probolinggo gak jadi ke Bromo? Duh dalam hati sudah kebat-kebit...rasanya pengen nangis. Bayangkan sudah sedekat itu ke tempat tujuan tapi gak bisa berangkat. Si sopir menawarkan aku mencarter sendiri dengan tarif edan-edanan supaya bisa segera berangkat. Enak aja...!

Ibu pemilik warung itu malaikat kalau menurutku. Dia mempersilahkan aku istirahat, boleh tiduran, boleh ngecas hape, dan membesarkan hatiku. Katanya tunggu saja, siapa tau nanti agak sore ada turis lain yang datang. Kata si ibu, tadi pagi 2 bison berangkat mengangkut banyak turis ke Bromo. Duh apa mungkin aku satu orang yang tertinggal? Huhuhuhu...Tapi aku putuskan untuk menunggu. Menunggu adalah bagian dari perjalanan. Sepakat kan? Benar saja, jam 3 sore lebih sedikit datanglah seorang cowok Jepang memanggul ransel. Rasanya pengen loncat-loncat sambil memeluk dia hahaha. Kami berkenalan, namanya Takea. Harapanku tumbuh lagi, dan gak berapa lama...2 bule mendatangi warung ini dengan ransel segede-gede bagong di punggungnya. Belakangan kutau kalau bule-bule itu backpacker asal Jerman yang sudah menghabiskan waktu 2 minggu keliling Indonesia. Mereka berangkat ke Bromo dari Jogja. Mereka berdua memperkenalkan diri, Paul dan temannya menyebutkan namanya yang di telingaku terdengar seperti Hooligan. Tapi kan gak mungkin ya, secara doi orang Jerman hahahaha! 

Maka setelah sepakat share harga, kami berempat berangkat menuju medan laga. Yihaaaa! Bromo aku datang!


warung tempat turis-turis menuju Bromo transit, persis di depannya bison mengetem


ini dia bison!


Paul dan 'H' yang menjadi kawan seperjalanan dan menjagaku dari serbuan calo

Perjalanan menuju Cemoro Lawang memakan waktu 1,5 jam. Semakin menanjak dan semakin berkelok, udara pun semakin dingin. Tapi semua terbayar dengan pemandangan yang luar biasa indah, hijau, damai. Rumah-rumah suku Tengger yang berderet rapi, kebun sayur-mayur, dan tentu saja pohon cemara. Di dalam bison riuh sekali. Kami bergantian saling memotret dan tertawa-tawa. Takea mendapat tempat kehormatan duduk paling depan dekat sopir. Sementara aku duduk sebangku dengan Paul sehingga kami bisa mengobrol banyak. Ia senang bukan kepalang ketika mengetahui aku pernah ke Bali beberapa kali. Setelah Bromo, mereka akan melanjutkan perjalanan ke Bali dengan bis.

Sesampainya di Cemoro Lawang, sopir bertanya penginapan seperti apa yang kami inginkan. Aku, Paul, dan 'H', sepakat berbagi kamar supaya mendapatkan harga yang miring. Ditambah kami sangat menginginkan kamar dengan shower air panas. Percaya deh, udara di Bromo bukan main dinginnya. Tapi kamar dengan air panas dan kamar mandi dalam harganya lumayan mahal. Ketika itu kami mendapat yang paling murah dengan 2 tempat tidur besar dan 1 tempat tidur kecil seharga Rp.180.000,-. Tapi karena dibagi tiga jadi benar-benar terasa ringan! Masing-masing cukup membayar Rp. 60.000,- saja. Takea, karena pusing dan tidak mau bergabung dengan kami, ia memutuskan menginap di Cafe Lava dengan rate kamar Rp. 300.000,-. Gilaaak mahal banget! Tapi mungkin doi memang tajir hihihi jadi gak keberatan. Akhirnya Takea berpisah dengan kami bertiga.

Setelah membayar penginapan di muka pada makelar hotel atas rekomendasi sopir bison, akhirnya kami bisa menaruh barang-barang dan segera pergi jalan-jalan. Harus cepat, karena hari semakin sore dan kabut semakin tebal. Enaknya punya teman laki-laki, meski jalan ketika hari gelap tidak khawatir. Aku bersyukur dipertemukan dengan mereka berdua, sehingga merasa aman di kampung orang. Kami nongkrong di depan Hotel Cemara Indah. Ah...lautan pasir terlihat dekat sekali. Begitupun dengan Bromo. Rsanya tinggal loncat aja sudah sampai!


Cemoro Lawang di senja hari


Paul (berkacamata) dan 'H', nongkrong sore hari


Lutan Pasir dan Gunung Batok dari depan Hotel Cemara Indah

Setelah makan malam, kami bertiga kembali ke penginapan. Senang sekali setelah melakukan perjalanan begitu panjang akhirnya bisa mandi air panas. Sebelum tidur, Paul membentangkan peta Bali yang sangat besar di lantai. Kami bertiga mengelilinginya. Dia bertanya banyak hal tentang Bali, dan aku dengan senang hati menjawabnya. Ups, sebelum tidur dia mengingatkanku untuk pesan jip pada makelar hotel. Tepuk jidat hampir lupa! Aku menghubungi makelar hotel dan minta dicarikan sharing-an jip menuju Gunung Penanjakan untuk melihat matahari terbit. Biayanya Rp. 70.000,-. Paul dan 'H' malah tidak tertarik ke Penanjakan, mereka memutuskan bangun agak siang baru menjelajah Bromo ketika hari sudah terang. Sementara aku harus bangun jam 3 pagi untuk berangkat ke Penanjakan.

Hari Ke-3 (Sabtu, 28 Januari 2012)

Jam 3 lebih pintu kamar diketuk sopir jip, menyuruhku siap-siap sementara dia menjemput orang-orang di penginapan yang lain. Paul dan 'H' masih terlelap di tempat tidur seberang. Aku memutuskan memakai semua jaketku (aku bawa 4 jaket), sarung tangan, dan kaos kaki ketika pergi tidur. Sehingga ketika bangun, tak perlu repot lagi. Aku menuliskan pesan di selembar kertas untuk mereka berdua. Bilang bahwa aku ke Penanjakan dan Bromo, kembali ke penginapan sekitar jam 8.30. Tak lupa meminta mereka menitipkan kunci di resepsionis. Jip datang, ketika aku masuk sudah ada 2 orang di dalamnya. Aku mendapat kawan seperjalanan baru lagi. Namanya Fatimah dan Agis. Agis ini kuliah di Jogja, dan secara kebetulan, kami bertiga akan pulang ke Jogja selepas menjelajah Bromo. Mereka baik dan menyenangkan sekali, kami langsung akrab dan tertawa-tawa. Begitulah, dalam perjalanan kita bisa langsung merasakan perasaan senasib dan sepenanggungan sehingga bisa saling menitipkan diri dan menjaga. 

Fatimah dan Agis ini juga tak berhenti menyemangati ketika aku hampir menyerah mendaki Penanjakan. Gila yak! Kupikir gak setinggi itu tempatnya. Banyak orang yang akhirnya menyerah atau memutuskan naik kuda sampai atas. Setelah istirahat berkali-kali, akhirnya sampai juga di puncak. Wah suasananya sudah seperti di pasar. Ramai benar!



bersama Fatimah.


diantara Agis dan Fatimah, after sunrise @Penanjakan



setelah turun dari Penanjakan, jip akan membawa kami ke lautan pasir dan Bromo

Lain dengan ketika mendaki, pas turun hepi-hepi gak capek sama sekali. Malah sempet-sempetnya beli jagung bakar, dimakan sambil jalan dan cekikikan. Habis Penanjakan, lanjut ke Bromo. Siap-siap lagi kekuatan kaki diuji. Menyebrangi lautan pasir dan mendaki menuju kawah Bromo. Nyebrang lautan pasir masih oke...mulai naik juga masih oke...subhanallah terkagum-kagum dengan gunungan pasir yang seperti diukir yang membentuk Bromo. Tengah-tengah menuju tangga ke kawah udah mulai ngos-ngosan. Berhenti lagi, atur nafas, minum, dan sesekali ngeceng yang bening-bening supaya semangat hehehe. Sirik lihat mereka yang naik kuda, sampai bawah tangga masih seger buger, tapi ya kan judulnya berpetualang jadi harus menikmati bagian bersusah-susah...Tangga menuju kawah kondisinya sudah jelek, agak rusak dan pijakannya tertutup pasir sehingga licin dan rawan bikin orang tergelincir. Untung karena lelah, semua orang naik dan turun pelan-pelan sehingga gak saling tabrak, Setelah lutut kayak mau copot rasanya, akhirnya kita sampai. Aku dan Fatimah merangkak mendekati pagar pembatas kawah, lalu kaki kita selonjor masuk ke celah-celahnya sementara kita memeluk pagar erat-erat. Rasanya gak sanggup lagi berdiri dan ngeri melihat ke bawah. Kami menoleh ke belakang, gak percaya perjalanan sebegitu jauhnya kami tempuh dengan sukses meski harus pelan-pelan.


parkir kuda sewaan di bawah tangga kawah Bromo dengan latar belakang Gunung Batok


kawah bromo. katanya ketika ada upacara kesodo, di bawah banyak orang-orang Tengger bawah yang menangkapi sesaji berupa hasil bumi dan hewan ternak


kami merangkak di bibir kawah, gak sanggup berdiri karena ngeri dan lutut yang gemetaran


lihat seberapa jauh kami berjalan!


pura hindu di kaki gunung


Kami tidak berlama-lama di kawah, karena ingin sesegera mungkin berangkat ke Jogja. Jam 10 pagi kami sudah turun dari Cemoro Lawang menggunakan bison dengan tarif normal Rp. 25.000,-. Di Probolinggo kami diantar ke agen travel menuju Jogja dengan tujuan akhir Sosrowijayan. Bersama kami bertiga, ikut pula sepasang turis asal Cina yang membuat perjalanan Probolinggo-Joga serasa sedang menonton film Mandarin karena obrolan seru mereka dengan bahasa cang-cing-cong. Hahahaha....hebat juga! Bepergian sendiri tidaklah sepi, malah dapat kawan-kawan baru di perjalanan. So i do believe now that travel alone is not lonely....












Selasa, 27 Desember 2011

A Trip to Kampung Naga

Halowwww! Suasana liburan kian terasa yah...setelah pembagian rapor, disusul Natal lalu beberapa hari lagi sudah tahun baru. Meskipun tidak liburan ke luar kota, jangan merasa libur panjang ini jadi sia-sia. Banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi beramai-ramai bersama keluarga, teman, keluarga pacar, temannya pacar, dll di Tasikmalaya ini ;D

Lagi dan lagi...aku yang senantiasa beruntung ini dapat kesempatan jalan-jalan gratissss! Kali ini bersama seluruh murid tercinta, anak-anak Sekolah Alam Bukit Bintang yang bersinar dan cemerlang. Perjalanan ini persisnya dilakukan sehari sebelum mereka dibagi rapor, tanggal 22 Desember lalu. Tambah seru, karena ada beberapa orangtua siswa yang bergabung menguji persendian tubuhnya dengan menuruni dan menaiki tangga Kampung Naga ini. Okeh, jika ada yang belum pernah ke Kampung Naga, kamu bisa mencapainya dari Tasik kota dengan lama perjalanan kurang lebih 45 menit. Kampung Naga terletak di desa Neglasari, Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Naik elf atau bis ke arah Garut pasti lewat kampung beken ini. Kamu bisa langsung tahu karena ia berada di bawah jalan raya, dan kamu bisa melihat atap-atap ijuk rumah adatnya di bawah sana. Tapi sebaiknya kamu survey dulu, bikin janji dengan pemandunya untuk dimintakan ijin dari tetua kampung. Gak ada uang tiket...siapkan saja 3 amplop untuk guide dan sumbangan pembangunan kampung. Nah, kenapa penting sekali berkordinasi dengan para pemandu ini? karena seringkali kita berwisata dan berekreasi seenaknya. Di kampung ini, ada beberapa larangan dan pantangan, takutnya kalau kita jalan sendiri, para penduduk kuran berkenan. Begitu loh....Jadi mari mulai bertualang!

siapkan stamina, untuk mencapai perkampungan kamu harus melewati 400-an anak tangga!
 
 
hutan adat yang terjaga membalasnya dengan persediaan air yang melimpah bagi sumber penghidupan dan pertanian
 
 
 lelah dan capek hilang setelah celupin kaki ke dalam kolam berisi ikan-ikan kecil pemakan sel-sel kulit mati...geliiii!
 
itu Sadam! berteduh di kesejukan atap ijuk rumah panggung khas Kampung Naga. Atap ijuk menjanjikan kesejukan ketika udara panas, dan memeluk para penghuni rumah dengan kehangatan ketika udara dingin menusuk tulang. Atap ini mampu bertahan hingga belasan tahun!
 
 

 


 



Nyi Iteung: backpack hitam kesayangan yang setia menemani setiap perjalanan
 

 


Bepergianlah selagi muda (pesan emakku), ya begini ini...kalo nemu medan lumayan ekstrim seperti ini, mesti naik-turun 400-an anak tangga jadinya segar-bugar tak mengeluh apa-apa...coba kalau sudah uzur, pasti banyak keluhan sakit pinggang, pegal, sampai rumah harus diurut dan minum jamu hihihihi.....
 
Cukup sekali deh ke Kampung Naga ini, bukannya apa-apa...ilfil juga di tengah kampung yang dijaga keaslian tradisinya kita bisa dengan mudah menjumpai pedagang eskrim Walls, popmie, da aneka softdrink. Duh!!!